[Belum ada pesanan]


 


 


 

 Lokasi
 Sejarah
 Budaya
 Makanan & Minuman
 Tempat Wisata
 Info Batik
 Akomodasi
 Galeri foto

 Email
 Kirim Email
 Telepon


CS1YahooM! (Online/Offline)
CS2YahooM! (Online/Offline)

Email address :
Password :

  

Lupa password ?

  KATALOG

Abaya Batik
Bahan Batik
Batik Sarimbitan
Bedcover Batik
Blus Batik Anak
Blus Batik Lengan Panjang
Blus Batik Lengan Pendek
Blus Batik Tanpa Lengan
Celana Batik
Daster
Interior Rumah
Jaket Batik
Kaos
Kemeja Batik
Kemeja Wayang
Kerajinan Tangan Solo
Kerudung Batik
Motif Batik
Mukena Batik
Piyama Anak
Rok Batik
Sajadah Batik
Sarung Batik
Seprei Batik
Souvenir
Syall Batik

 English
 Indonesia
 Jawa


RUMAH
 
TENTANG KAMI
 
PEMBAYARAN
 
CARA PESAN
 
FAQ
 
Sejarah


            

 

Kota Surakarta atau Solo yang kita kenal saat ini dahulu merupakan sebuah desa yang ada di pinggiran sungai.Nama desa itu adalah desa Sala. Sejarah kota Solo tidak bisa dipisahkan dari kerajaan Mataram. Mataram terpecah belah akibat politik devide et impera Belanda yang dimulai saat pemerintahan Amangkurat I.

Adipati Anom mengangkat dirinya sebagai Susuhunan Amangkurat II dalam pelarian dan membangun keraton pengganti di Kartasura (Wanakerta) sementara itu Pangeran Puger yang notabene adik Amangkurat II berhasil merebut kembali Plered ( ibu kota Mataram setelah Kotagede dan Yogyakarta). Inilah kali pertama terjadi di bekas wilayah Mataram diperintah dua raja.

Kartasura yang dipimpin raja Amangkurat II harus menghadapi perlawanan Pangeran Puger yang akhirnya gagal. Sepeninggal Amangkurat II kraton Kartasura masih mengalami pergolakan. Di bawah pimpinan             Amangkurat III Kartasura semakin amburadul karena perangai raja yang buruk, suka main wanita, tinggi hati dan pemarah. Amangkurat III berhasil digulingkan oleh Pangeran Puger yang bersekutu dengan Cakraningrat dan Belanda. Pada tahun 1704 di Semarang, Pangeran Puger dinobatkan sebagai raja dengan gelar Kangjeng Susuhunan Paku Buwono Senapati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama ( Paku Buwono I ).

Sesudah Paku Buwono I tutup usia,beliau digantikan oleh Amangkurat IV yang juga populer disebut Amangkurat Jawi.Amangkurat IV wafat pada tahun 1727 dan digantikan oleh RM Gusti Prabu Suyasa yang bergelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono Ing Ngalaga Ngabdurachman Sayidin Panatagama Ingkang Kaping II.

Pada masa pemerintahannya Kartasura tak terhindar dari pergolakan. Pergolakan yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi ( cucu Amangkurat III ) dan didukung oleh kekuatan Cina berhasil menjebol Kartasura serta memaksa Paku Buwono II lari ke Ponorogo. Dalam pengungsian Paku Buwono II menerima bantuan Belanda dengan imbalan harus menyerahkan seluruh daerah pantai ditambah wlayah lain seluas 138.422 karya. Akibatnya meski beliau memperoleh kembali tahtanya, Kartasura telah kehilangan kedaulatan atas wilayah pesisir, sehingga tidak lagi dapat berhubungan dengan daerah-daerah seberang. Kartasura menjadi terkucilkan. Menganggap Kartsura sudah tidak lagi bertuah, Paku Buwono II memindahkan pusat kerajaannya ke Desa Sala. Keraton Baru tersebut selesai dibangun tahun 1745 M dan ditasbihkan sebagai Surakarta Hadiningrat. Hadirnya Keraton membuat suasana desa Sala berubah menjadi hidup dan berkembang hingga menjadi seperti sekarang ini.



Copyright © 2007 Rumah Batik Solo